FAKTABENGKULU.COM – Suasana kunjungan kerja Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy, ke Provinsi Bengkulu pada Kamis (23/4/2026), menjadi panggung bagi Walikota Bengkulu Dedy Wahyudi untuk menyuarakan “jeritan” pembangunan daerah.
Dalam narasi pernyataannya, Dedy menegaskan bahwa Kota Bengkulu membutuhkan tangan dingin pemerintah pusat karena keterbatasan anggaran daerah yang tidak lagi mampu menopang beban proyek strategis.
Ketimpangan Program Nasional: “Jangan Lupakan Bengkulu”
Dedy Wahyudi membuka pernyataannya dengan menyoroti program strategis nasional Waste to Energy (pengolahan sampah menjadi energi). Ia menilai ada ketidakadilan yang dirasakan Bengkulu dalam distribusi program ini secara nasional.
“Dari 38 provinsi di Indonesia, program ini baru menyasar 34 provinsi, dan Bengkulu belum termasuk di dalamnya. Padahal, Kota Bengkulu memiliki volume sampah terbesar di provinsi ini. Kami sangat memohon bantuan Bapak Menteri agar program ini masuk ke sini sebagai bentuk pemerataan. Jujur saja, jika mengandalkan APBD, dana kami tidak kuat,” tegas Dedy.
Dilema Pasar Panorama: Antara Teguran dan Realitas
Aspirasi kedua yang disampaikan menyentuh urat nadi ekonomi kerakyatan, yakni revitalisasi Pasar Panorama. Dedy mengungkapkan tantangan sosial yang ia hadapi saat pedagang meluber hingga ke badan jalan, yang sempat memicu teguran dari Wakil Gubernur.
“Pak Wagub sempat menegur saya soal pedagang yang berjualan di jalan. Namun saya sampaikan apa adanya, di dalam pasar memang sudah penuh sesak. Daya tampungnya tidak lagi memadai. Kami butuh skema Pasar Inpres seperti Pasar Purwodadi di Bengkulu Utara agar ekonomi masyarakat terakomodir dengan layak dan tertib,” jelasnya.
Infrastruktur Vital: Air Bersih dan Jembatan yang Terancam Ambruk
Selain masalah pasar dan sampah, Walikota juga menitipkan keberlanjutan tahap kedua program SPAM Regional untuk menjamin hak atas air bersih bagi warga Kota Bengkulu, Bengkulu Tengah, dan Seluma.
Namun, yang paling mendesak adalah kondisi Jembatan Terusan di kawasan Pelindo. Dedy memaparkan bahwa jembatan tersebut merupakan akses vital bagi ribuan warga dan anak sekolah, namun kini berada dalam kondisi kritis akibat erosi.
“Kondisi penyangga jembatan sudah rusak parah karena erosi. Kami memerlukan anggaran sekitar Rp86 miliar untuk perbaikannya. Ini mendesak, menyangkut keselamatan ribuan nyawa warga dan anak-anak sekolah yang melintas setiap hari,” tambah Dedy.
“Selamat Pulang ke Rumah, Pak Menteri”
Menutup rangkaian aspirasinya, Dedy Wahyudi menyentuh sisi emosional dan historis. Ia mengungkapkan bahwa Menteri Rachmat Pambudy sejatinya adalah bagian dari sejarah Bengkulu melalui garis keturunan Sentot Alibasyah, panglima perang Pangeran Diponegoro yang dimakamkan di Bengkulu.
“Saya katakan selamat pulang ke Kota Bengkulu, karena Bapak memiliki darah Bengkulu. Kehadiran Bapak bukan sekadar kunjungan menteri, tapi kepulangan seorang putra daerah. Ini menjadi penambah semangat kami untuk membangun daerah ini lebih baik lagi dengan dukungan pusat,” pungkas Dedy.
Pertemuan strategis ini turut disaksikan oleh Wakil Gubernur Bengkulu Mian, jajaran Deputi Bappenas, serta seluruh unsur Forkopimda se-Provinsi Bengkulu. Kini, bola panas pembangunan ada di tangan pemerintah pusat untuk merealisasikan aspirasi masyarakat Bengkulu.
(ABD)













