KEPAHIANG, FAKTABENGKULU.COM – Misteri penyebab keracunan massal yang menimpa belasan siswa di SD Negeri 18 Kepahiang akhirnya terungkap. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kepahiang resmi merilis hasil uji laboratorium terhadap sampel Makanan Bergizi Gratis (MBG) dan muntahan para korban.
Hasil pemeriksaan laboratorium memastikan adanya kontaminasi bakteri Staphylococcus aureus pada menu makanan yang dibagikan—khususnya pada komponen nasi.
Kepala Dinkes Kepahiang, Tajri Fauzan, menjelaskan bahwa bakteri jenis ini umumnya menyebar melalui sentuhan atau udara, dan sangat erat kaitannya dengan tingkat higienis penjamah makanan (food handler).
“Dari hasil kajian lab, asal bakteri ini kemungkinan besar dari petugas yang mengelola, menyiapkan, atau mendistribusikan makanan yang kurang bersih. Bisa juga karena kondisi petugas saat itu sedang kurang sehat,” ujar Tajri saat diwawancarai, Rabu (17/6/2026).
Dugaan Sumber Kontaminasi: Petugas Lupa Masker?
Berdasarkan analisis teknis, titik lemah penyajian ditemukan pada bagian nasi. Dinkes menduga ada kelalaian prosedur sanitasi saat makanan tersebut dipersiapkan sebelum didistribusikan ke siswa.
“Jika kita lihat hasil ini, kontaminasi ada di nasi. Bisa jadi dari tangan pekerja yang kurang steril atau dari droplet mulut karena petugas lupa mengenakan masker saat bekerja,” imbuh Tajri.
Meski bakteri ini dapat memicu gejala instan seperti mual, pusing, hingga muntah-muntah, Tajri memastikan tidak ada dampak jangka panjang bagi kesehatan para siswa jika cepat ditangani. Tercatat ada 16 korban—terdiri dari siswa, guru, hingga penjaga sekolah—yang sempat dilarikan ke Puskesmas Kelobak dan Puskesmas Pasar Kepahiang.
“Untungnya kemarin langsung dievakuasi dan ditangani dengan baik. Jika terlambat, bakteri ini bisa memicu dehidrasi berat yang membahayakan nyawa. Alhamdulillah, seluruh korban saat ini sudah berangsur pulih dan sembuh,” jelasnya.
Menyisakan Trauma, Orang Tua Minta Evaluasi Total
Meski kondisi fisik anak-anak mereka sudah membaik, insiden yang terjadi pada Kamis (4/6/2026) lalu tersebut menyisakan trauma psikologis yang mendalam bagi para orang tua dan siswa.
Risti, salah satu orang tua murid, menceritakan bagaimana kepanikannya saat melihat sang anak mengalami gejala mual, pusing, gatal-gatal, hingga sempat sesak napas setelah menyantap menu MBG di sekolah.
“Anak saya sekarang jadi takut dan trauma untuk makan makanan dari program MBG lagi. Tentu sebagai orang tua kami sangat khawatir,” ungkap Risti.
Harapan serupa disampaikan oleh Rio, orang tua murid lainnya yang anaknya baru berusia 9 tahun. Ia berharap pihak penyelenggara bisa memberikan jaminan keamanan pangan yang lebih meyakinkan ke depannya.
“Trauma itu pasti ada. Kalau program ini mau dilanjutkan, kualitasnya wajib ditingkatkan lagi. Yakinkan masyarakat agar hal seperti ini tidak terulang kembali,” tegas Rio.
Dinkes Perketat Prosedur Dapur MBG
Merespons kejadian ini, Dinkes Kepahiang menegaskan akan memperketat pengawasan terhadap seluruh ekosistem penyedia program Makanan Bergizi Gratis di wilayahnya.
Tajri mengimbau seluruh pengelola dapur dan petugas MBG untuk menerapkan standar higienis dan sanitasi yang ketat tanpa toleransi.
“Diperlukan peningkatan higienis dan sanitasi pada seluruh tahapan. Mulai dari pengelolaan bahan, penyimpanan, hingga penyajian makanan guna mencegah kejadian serupa di masa depan,” pungkasnya.
(ABD)













