BENGKULU, FaktaBengkulu.com – Lonjakan harga plastik di pasar lokal mulai mencekik para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Provinsi Bengkulu. Menanggapi kondisi ini, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Bengkulu menyarankan para pengusaha makanan tradisional untuk kembali menggunakan kemasan alami seperti daun pisang.
Kenaikan harga material pembungkus sintetis ini disebut-sebut sebagai dampak domino dari tingginya biaya produksi di luar daerah serta ketidakstabilan situasi geopolitik global yang memengaruhi suplai bahan baku plastik.
UMKM Tahu dan Tempe Paling Terpukul
Kepala Disperindag Provinsi Bengkulu, Desman Siboro, mengungkapkan bahwa ketergantungan Bengkulu terhadap pasokan plastik dari luar wilayah membuat harga di tingkat lokal sangat fluktuatif. Menurutnya, sektor yang paling merasakan dampak langsung adalah produsen makanan pokok harian.
“UMKM kita cukup terdampak, terutama usaha makanan seperti tahu dan tempe yang memang membutuhkan kemasan plastik dalam jumlah besar setiap harinya,” ujar Desman, Minggu (19/4/2026).
Kenaikan ini menjadi beban tambahan di tengah upaya UMKM untuk pulih dan berkembang, mengingat plastik merupakan komponen biaya operasional yang sulit dieliminasi dalam sekejap.
Daun Pisang: Solusi Ekonomis dan Ramah Lingkungan
Sebagai langkah antisipasi sekaligus solusi jangka panjang, pemerintah daerah mendorong transisi ke arah kemasan berkelanjutan. Penggunaan daun pisang atau daun lebar lainnya dinilai menjadi alternatif paling masuk akal bagi pengusaha kuliner tradisional.
Ada beberapa poin utama mengapa beralih ke pembungkus alami dianggap menguntungkan:
- Efisiensi Biaya: Bahan alami relatif lebih murah dan mudah didapatkan di wilayah Bengkulu.
- Higienis: Selama dibersihkan dengan benar, daun pisang adalah pembungkus yang aman dan bebas zat kimia berbahaya.
- Nilai Tambah (Unique Selling Point): Tren gaya hidup eco-friendly membuat konsumen lebih melirik produk dengan kemasan ramah lingkungan.
“Kami menyarankan pelaku usaha mulai beralih ke pembungkus alami. Ini bukan hanya solusi jangka pendek untuk menekan biaya, tetapi juga peluang meningkatkan daya saing dan nilai jual produk lokal di mata konsumen,” tambah Desman.
Harapan bagi Keberlangsungan UMKM
Disperindag berharap momentum kenaikan harga plastik ini bisa menjadi titik balik bagi UMKM di Bengkulu untuk mengadopsi konsep bisnis hijau. Dengan memanfaatkan kearifan lokal, produk tradisional Bengkulu diharapkan tetap mampu bertahan tanpa harus membebani konsumen dengan kenaikan harga jual yang drastis.
Langkah ini juga sejalan dengan kampanye global pengurangan limbah plastik yang kian masif. Jika transisi ini berjalan mulus, identitas kuliner Bengkulu justru akan semakin kuat dengan sentuhan alami yang otentik.
(ABD)













