Manna, faktabengkulu.com – Kabar baik bagi para petani kelapa sawit di Kabupaten Bengkulu Selatan. Guna mendongkrak kembali hasil panen yang kian menyusut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bengkulu Selatan resmi mengusulkan program peremajaan atau replanting kelapa sawit rakyat dengan total luas mencapai 1.300 hektare.
Langkah strategis ini diambil sebagai solusi atas banyaknya keluhan masyarakat terkait penurunan produktivitas kebun akibat usia tanaman yang sudah tua dan tidak lagi produktif.
Solusi untuk Kebun Sawit Berusia 30 Tahun
Wakil Bupati Bengkulu Selatan, Yevri Sudianto, menjelaskan bahwa program replanting ini merupakan buah dari koordinasi intensif antara Pemkab dengan Kementerian Pertanian. Usulan tersebut kini telah diterima dan masuk dalam program peremajaan kelapa sawit yang dikelola oleh pemerintah pusat.
Secara teknis, anggaran dan pelaksanaan program ini akan dikawal langsung melalui Direktorat Jenderal Perkebunan serta Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS).
“Berdasarkan data dan aspirasi di lapangan, banyak sekali kebun sawit milik masyarakat yang usianya sudah menyentuh 30 tahun. Tanaman yang sudah tua ini tentu tidak lagi menghasilkan buah secara optimal,” ujar Yevri kepada media, Senin (22/6/2026).
Kecamatan Pino Raya Jadi Fokus Utama
Menindaklanjuti program kakap ini, Dinas Pertanian Kabupaten Bengkulu Selatan melalui Bidang Perkebunan kini tengah bergerak cepat. OPD terkait mulai melakukan pendataan dan verifikasi faktual di lapangan.
Proses verifikasi ini sangat penting untuk memastikan kelayakan administratif, status kepemilikan lahan, hingga keabsahan usia tanaman sebelum data final diserahkan kembali ke kementerian.
Dari pemetaan awal, wilayah yang paling banyak mengusulkan program ini berada di satu titik strategis. “Dari hasil usulan yang masuk, lahan yang benar-benar mendesak dan membutuhkan replanting paling banyak berada di Kecamatan Pino Raya,” ungkap Wabup Yevri.
Kurangi Biaya Operasional, Petani Diminta Segera Melapor
Lebih lanjut, Yevri mengimbau kepada seluruh masyarakat Bengkulu Selatan yang memiliki kebun sawit tua untuk tidak melewatkan kesempatan emas ini. Petani diharapkan segera berkoordinasi dengan pemerintah desa (Pemdes) maupun Dinas Pertanian agar lahannya bisa didata.
Menurutnya, memelihara sawit yang sudah terlalu tinggi dan tua justru merugikan petani dari sisi ekonomi.
- Biaya Operasional Membengkak: Proses panen sawit yang tinggi memerlukan alat khusus dan tenaga ekstra.
- Hasil Panen Merosot: Produktivitas Tandan Buah Segar (TBS) terus menurun seiring bertambahnya usia pohon.
“Kalau sawit sudah terlalu tua dan tinggi, biaya operasionalnya justru semakin besar sedangkan hasilnya minim. Dengan program replanting gratis dari pemerintah ini, kita ingin kesejahteraan petani sawit di Bengkulu Selatan bisa meningkat pesat dalam jangka panjang,” tutup Yevri.
(ABD)













