BENGKULU TENGAH, FaktaBengkulu.com – Perjuangan para petani di Desa Kembang Seri, Kecamatan Talang Empat, Kabupaten Bengkulu Tengah demi mengais rezeki tampaknya masih jauh dari kata merdeka. Saban hari, mereka harus bertaruh nyawa menyeberangi derasnya arus sungai menggunakan rakit bambu sederhana demi mengangkut hasil panen perkebunan.
Kondisi infrastruktur yang minim ini membuat warga setempat sangat mendambakan kehadiran jembatan gantung yang layak dari pemerintah. Jembatan tersebut dinilai menjadi kunci utama untuk mempermudah akses mobilitas ekonomi masyarakat.
Akses Vital Menuju 200 Hektare Lahan Sawit dan Karet
Kebutuhan akan jembatan gantung ini bukan tanpa alasan. Jalur sungai yang biasa diarungi warga menggunakan rakit bambu tersebut merupakan satu-satunya rute tercepat menuju area perkebunan rakyat yang sangat luas.
Tercatat, ada sekitar 100 hektare kebun kelapa sawit dan 100 hektare kebun karet milik warga yang menjadi tumpuan hidup utama bagi ratusan kepala keluarga di Desa Kembang Seri.
Rakit Sering Terbalik, Hasil Panen Hanyut Ditersapu Arus
Mengandalkan rakit bambu tradisional tentu menyimpan risiko keselamatan yang sangat tinggi, terutama ketika cuaca buruk melanda dan debit air sungai mendadak meningkat.
Salah seorang petani setempat, Firmansyah, menceritakan getirnya perjuangan para pekebun saat harus membawa hasil bumi melintasi sungai yang berarus deras.
“Kalau air sungai besar, rakit bisa terbalik. Pernah juga hasil panen yang dibawa hanyut terbawa arus,” ungkap Firmansyah dengan nada getir, Jumat (12/6/2026).
Tidak berhenti di situ, tantangan fisik masih harus dihadapi warga setelah berhasil menyeberangi sungai. Para petani harus kembali memikul Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit maupun hasil sadapan karet dengan berjalan kaki menuju titik jemput kendaraan.
Jalur darat yang dilalui pun tergolong ekstrem—memiliki kontur tanah yang curam serta licin—sehingga rawan membuat warga tergelincir saat memikul beban berat.
Jalur Alternatif Taba Pasmah: Jauh dan Berlumpur
Sebenarnya, terdapat jalur darat alternatif melalui Desa Taba Pasmah. Namun, opsi ini dinilai sama sekali tidak efektif dan belum bisa menjadi solusi bagi mobilitas harian petani.
Selain jarak tempuhnya yang cukup jauh—memutar hingga 6 kilometer—kondisi infrastruktur jalan tersebut juga masih berupa tanah.
“Kalau lewat Taba Pasmah memang bisa, tapi jauh. Saat hujan jalan juga susah dilewati karena masih tanah,” tambah Firmansyah.
Harapan Kepada Pemerintah Daerah dan Pusat
Melalui momentum ini, masyarakat Desa Kembang Seri menaruh harapan besar agar Pemerintah Kabupaten Bengkulu Tengah maupun pemerintah pusat segera turun tangan merealisasikan pembangunan jembatan gantung di wilayah mereka.
Keberadaan jembatan gantung ini diyakini tidak hanya akan menjamin keselamatan para petani saat bekerja, tetapi juga mampu memangkas biaya logistik, memperlancar distribusi hasil bumi, dan mendongkrak roda perekonomian lokal secara signifikan.
(ABD)













