FAKTABENGKULU.COM, BENGKULU — Langkah nyata dalam menghadirkan ruang kebudayaan tanpa batas kembali diwujudkan di Kota Bengkulu. Walikota Bengkulu Dedy Wahyudi secara resmi menutup rangkaian acara Internalisasi Objek Pemajuan Kebudayaan untuk Kelompok Disabilitas yang diinisiasi oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah VII.
Kegiatan penutupan yang berlangsung hangat dan penuh inspirasi ini digelar di Yayasan Pembina Anak Cacat (YPAC), Jalan Raden Fatah Simpang 4 Pagar Dewa, Kota Bengkulu, berkolaborasi dengan TK Bhakti Family, Rabu (29/7/2026).
Mengusung tema utama “Rangkul Bersama Satu Hati dalam Budaya”, agenda ini menjadi penutup manis dari serangkaian lokakarya inklusif yang sebelumnya juga sukses diselenggarakan di Yayasan Amal Mulia Kota Bengkulu.
Apresiasi Walikota untuk Ruang Inklusif Tanpa Batas
Dalam sambutannya, Walikota Bengkulu Dedy Wahyudi memberikan apresiasi tinggi kepada BPK Bengkulu yang telah menggagas program luar biasa ini. Menurutnya, puluhan anak berkebutuhan khusus berhak mendapatkan akses yang sama untuk mengenal dan mencintai warisan budaya lokal di tanah Bumi Merah Putih.
”Pendampingan terhadap kelompok disabilitas dalam sektor kebudayaan ini tidak boleh berhenti sampai di sini saja. Kolaborasi lintas sektor harus terus berlanjut demi mewujudkan ekosistem kebudayaan yang benar-benar inklusif di Kota Bengkulu,” ujar Dedy Wahyudi di hadapan para peserta dan tamu undangan.
Belajar Merajut Budaya Lewat Miniatur Tabut dan Barong Landong
Sementara itu, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan, Iskandar Mulia Siregar, menegaskan bahwa esensi utama dari internalisasi ini adalah pemenuhan hak setara bagi anak-anak istimewa. Tujuannya agar mereka tumbuh dengan pemahaman mendalam mengenai identitas asli daerah mereka.
Selama lokakarya berjalan, para peserta yang didominasi oleh anak-anak tunanetra mendapatkan kesempatan emas untuk belajar langsung dari para budayawan lokal. Dengan bimbingan penuh kesabaran, mereka diajak mengeksplorasi kreativitas melalui pembuatan miniatur Tabut—warisan budaya kebanggaan masyarakat Bengkulu.
Tidak hanya itu, antusiasme peserta juga terlihat saat diperkenalkan dengan berbagai kerajinan tradisional lainnya, seperti teknik pembuatan ikek (ikat) kepala khas daerah serta pengenalan kesenian tradisional Barong Landong. Pendekatan yang ramah disabilitas terbukti ampuh memantik rasa percaya diri serta kreativitas tinggi anak-anak istimewa tersebut untuk terus berkarya.
Pemerintah Kota Bengkulu bersama BPK berharap program inovatif ini dapat menjadi pilot project berkelanjutan, menjadikan kebudayaan lokal sebagai milik bersama yang merangkul seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.
(ABD)













