Menu

Mode Gelap
Dari Reruntuhan Musibah hingga Gerobak Rezeki: Perjalanan Tangguh Pelaku UMKM Desa Kayu Arang Menciptakan Peluang di Tanah Sendiri Pemkot Bengkulu Perkuat Komitmen Pelayanan Publik, Ronny P.L. Tobing Hadiri Entry Meeting Ombudsman RI Pemkot Bengkulu Perkuat Layanan Kesehatan, Warga Diingatkan Cek Status Keaktifan JKN Darurat Narkoba dan Kenakalan Remaja Sasar Usia Produktif, Pemkot Bengkulu Perkuat Benteng Keluarga Menuju “Kota Bengkulu Bersinar” Pemkot Bengkulu Terima Kunjungan Ombudsman RI, Kokohkan Komitmen Zona Hijau Pelayanan Publik Pemkot & Imigrasi Perkuat Benteng TPPO, 9 Kelurahan Resmi Jadi Desa Binaan Imigrasi di Bumi Merah Putih  

Ekonomi

Dari Reruntuhan Musibah hingga Gerobak Rezeki: Perjalanan Tangguh Pelaku UMKM Desa Kayu Arang Menciptakan Peluang di Tanah Sendiri

badge-check

Dari Reruntuhan Musibah hingga Gerobak Rezeki: Perjalanan Tangguh Pelaku UMKM Desa Kayu Arang Menciptakan Peluang di Tanah Sendiri Perbesar

FAKTABENGKULU.COM, ​SELUMA — Perjalanan hidup manusia tidak pernah ada yang tahu persis ke mana arah angin akan membawa berlabuh. Kisah nyata penuh inspirasi datang dari seorang pemuda sarjana alumni perguruan tinggi di Bengkulu angkatan terakhir tahun 2021. Pasca-wisuda, ribuan kilometer telah ia tempuh menyusuri lika-liku dunia kerja; dari melamar di berbagai perusahaan di dalam kota, merantau ke Pasaman Barat, menjadi buruh “mutil kopi” di Kepahiang, merantau ke Lubuk Linggau, hingga membantu sang paman berjualan pecel lele di Tebing Tinggi, Sumatera Selatan.

​Namun, jalan hidup membawanya pulang ke tanah kelahiran tercinta di Desa Kayu Arang, Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu pada tahun 2022. Di kampung halaman, ia tak gengsi melakoni pekerjaan berat sebagai kuli bangunan dengan upah awal hanya Rp80 ribu per hari. Cemoohan tetangga dan pandangan miring mengenai gelarnya yang dianggap “tidak sesuai” dengan pekerjaan fisik sama sekali tidak ia hiraukan. Baginya, selagi halal, setiap peluh adalah kehormatan.

Ujian Berat dan Titik Balik di Atas Kursi Roda

​Cobaan hidup kembali menguji ketika ia beralih bekerja di sebuah somel (penggergajian) kayu. Sebuah musibah kecelakaan kerja merenggut kemampuan fisiknya, menyebabkan geser tulang lutut yang membuatnya tak lagi sanggup melakukan pekerjaan berat. Terkapar tanpa kepastian, ia dihadapkan pada pilihan sulit: menyerah pada keadaan atau bangkit dengan cara yang sama sekali baru.

​Tanpa pengalaman, tanpa mentor, dan bermodalkan tekad bulat sebesar Rp3 juta untuk membeli sebuah gerobak sederhana, ia memutuskan terjun ke dunia perdagangan kuliner. Tanggal 27 Juli 2025 menjadi tonggak sejarah usahanya. Bukannya disambut hari cerah, hari perdana jualan justru dihantam badai dan hujan deras selama seminggu berturut-turut. Tantangan operasional kian lengkap ketika modal Rp1 juta habis hanya untuk uji coba meracik bumbu dan adonan tahu agar layak santap.

​”Bisa dikatakan, rasa dan kualitas tahu pada awal jualan untuk melempar anjing liar pun mungkin berpikir dua kali karena keras dan susah dikunyah,” kenangnya sambil tersenyum geli mengenang masa-masa awal perjuangan.

Konsistensi, Inovasi, dan Kunci Bertahan Hidup

​Berkat ketekunan mendengarkan kritik, saran, serta masukan tanpa henti dari para pelanggan yang datang silih berganti, ia terus berbenah. Dari modal awal yang sangat terbatas hanya setengah papan tahu, 1 kg otak-otak, dan 4 kg singkong kini usahanya menunjukkan lonjakan luar biasa. Dalam sehari, ia mampu menghabiskan 2 papan tahu, 3 hingga 4 kg otak-otak, serta 10 sampai 12 kg singkong.

​Tidak cepat puas, setelah berjalan tiga bulan, ia berinovasi menghadirkan menu sosis crispy guna menjangkau kalangan anak muda dan anak-anak. Sempat menemui kendala karena banyak yang belum familiar, kesabaran dalam mengenalkan produk membuahkan hasil manis. Kini, sosis crispy menjadi salah satu menu andalan yang wajib dicicipi pembeli dari berbagai kalangan di Desa Kayu Arang.

​”Apapun keadaanmu dan seburuk kondisi tubuhmu, jangan menyalahkan Tuhanmu. Tetaplah berusaha tanpa menyalahkan kegagalan.”

​Tepat pada bulan Juli 2026, usaha kulinernya genap berusia satu tahun. Meskipun omset kotor harian berkisar antara Rp300 ribu hingga Rp450 ribu, rasa syukur senantiasa dipanjatkan. Ia menyadari bahwa pencapaian ini bukan sekadar soal angka penjualan, melainkan tentang bagaimana membangun mental tangguh dan konsistensi di tanah sendiri.

​”Walaupun saya belum bisa menciptakan lapangan pekerjaan luas untuk orang lain, setidaknya saya berusaha keras menciptakan lapangan pekerjaan untuk diri saya sendiri,” ujar Mas Bangkit

​(ABD)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Pemkot Bengkulu Perkuat Komitmen Pelayanan Publik, Ronny P.L. Tobing Hadiri Entry Meeting Ombudsman RI

28 Juli 2026 - 19:52 WIB

Pemkot Bengkulu Perkuat Layanan Kesehatan, Warga Diingatkan Cek Status Keaktifan JKN

28 Juli 2026 - 19:48 WIB

Darurat Narkoba dan Kenakalan Remaja Sasar Usia Produktif, Pemkot Bengkulu Perkuat Benteng Keluarga Menuju “Kota Bengkulu Bersinar”

28 Juli 2026 - 19:44 WIB

Pemkot Bengkulu Terima Kunjungan Ombudsman RI, Kokohkan Komitmen Zona Hijau Pelayanan Publik

27 Juli 2026 - 21:10 WIB

Pemkot & Imigrasi Perkuat Benteng TPPO, 9 Kelurahan Resmi Jadi Desa Binaan Imigrasi di Bumi Merah Putih  

27 Juli 2026 - 21:06 WIB

Trending di Headline