KOTA BENGKULU – Sebagai langkah konkret menjaga kelestarian bahasa ibu di tengah gempuran zaman, Balai Bahasa Provinsi Bengkulu resmi menerbitkan 80 judul buku bacaan anak dwibahasa. Inisiatif ini menggabungkan bahasa Indonesia dengan bahasa daerah setempat guna memperkenalkan kekayaan literasi lokal kepada generasi muda sejak dini.
Kepala Balai Bahasa Provinsi Bengkulu, Andriana Johan, menjelaskan bahwa proyek ini memiliki misi ganda: meningkatkan minat baca sekaligus memastikan bahasa daerah tetap hidup di tangan penutur masa depan.
”Buku-buku ini dirancang agar anak-anak tidak hanya menikmati cerita yang seru, tetapi juga mengenal identitas luhur mereka melalui bahasa daerah,” ujar Andriana di Kota Bengkulu, Sabtu (20/12).
Koleksi 80 buku tersebut mencakup tiga bahasa utama di Provinsi Bengkulu, yakni:
- Bahasa Rejang
- Bahasa Enggano
- Bahasa Bengkulu
Tak hanya itu, materi yang disajikan juga menyentuh sembilan dialek yang tersebar di wilayah Bengkulu, mulai dari dialek Kaur, Mukomuko, Pekal, Pasemah, Lembak, Serawai, hingga dialek Tunggang. Pendekatan dwibahasa ini dinilai menjadi media edukasi yang kontekstual dan efektif bagi anak-anak.
Langkah ini sejalan dengan visi Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti. Ia mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki kekayaan luar biasa berupa 817 bahasa daerah, di mana Papua menjadi penyumbang terbanyak dengan 400 bahasa.
Mendikdasmen mendorong agar kekayaan ini diintegrasikan ke dalam kurikulum pendidikan sebagai muatan lokal (mulok). Menurutnya, penggunaan bahasa daerah dalam proses belajar bukan sekadar soal budaya, melainkan juga kunci keberhasilan literasi dasar bagi anak-anak.
Dengan terbitnya puluhan buku ini, Balai Bahasa Bengkulu berharap wawasan generasi muda terus berkembang seiring dengan meningkatnya kecintaan mereka terhadap warisan budaya nusantara.
(ABD)












