FAKTABENGKULU.COM, SELUMA — Menghadirkan inovasi bernilai guna tinggi di tengah masyarakat, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Desa Kayu Arang sukses melaksanakan program kerja bertajuk ECOFERT yang berfokus pada sektor pertanian dan tanaman, Sabtu (25/7/2026).
Kegiatan yang dipusatkan di balai desa setempat ini tidak hanya mengedukasi warga tentang cara mengolah limbah rumah tangga menjadi Pupuk Organik Cair (POC), tetapi juga diwarnai dengan aksi nyata berupa pembagian bibit tanaman durian dan cemara kepada warga yang hadir.
Program ECOFERT hadir sebagai solusi cerdas menjawab persoalan sampah organik rumah tangga, seperti sisa sayuran dan buah yang kerap terbuang sia-sia. Dalam sesi demonstrasi yang dipandu oleh tim KKN, warga diajak melihat langsung betapa mudahnya meracik pupuk penyubur tanaman sendiri menggunakan bahan-bahan sederhana yang ada di sekitar rumah.
Langkah Praktis Bikin POC Mandiri di Rumah
Antusiasme warga terlihat jelas tatkala pemateri memaparkan alat dan bahan yang dibutuhkan. Cukup berbekal galon bekas sebagai bioreaktor, cairan EM4, molase (tetes tebu) atau gula merah, air jernih (atau air bekas cucian beras), sisa sayuran, plastik penutup, serta sebatang kayu untuk pengaduk, warga sudah bisa meracik nutrisi tanaman berkualitas tinggi.
Proses pembuatannya pun sangat sederhana:
- Larutkan EM4 dan molase (atau gula merah cair) ke dalam air.
- Masukkan sisa sayuran ke dalam galon bekas.
- Campurkan larutan cairan ke dalam media yang berisi sayuran, lalu tutup rapat.
Bagi warga yang ingin mencoba di rumah, takaran ideal untuk 1 kilogram limbah sayur membutuhkan sekitar 10 hingga 15 ml EM4, 20 ml molase (atau 20 gram gula merah yang dicairkan), serta 1 liter air.
Tim KKN mengingatkan, proses fermentasi ini memakan waktu sekitar 7 hingga 14 hari sebelum POC siap digunakan. Selama masa tunggu, tutup galon wajib dibuka setiap dua hari sekali (cross-check) guna membuang gas hasil fermentasi di dalam media.
”Proses pembuatan POC ini sangat simpel dan bisa diimplementasikan langsung ke dalam kehidupan rumah tangga. Selain mengurangi limbah dan menekan bau tak sedap serta penyebaran bakteri, kita juga bisa mendapatkan pupuk mandiri untuk menyuburkan tanaman produktif skala pekarangan seperti cabai dan sayuran,” ujar Adit, salah satu perwakilan mahasiswa KKN.
Apresiasi Kepala Desa dan Potensi Peluang Bisnis Baru
Kepala Desa Kayu Arang, Saidina Aksa menyambut hangat inisiatif positif yang dibawa oleh para mahasiswa. Dengan nada bercanda khas yang mencairkan suasana, ia berpesan agar warga benar-benar menyimak materi yang diberikan.
”Ini pengalaman baru bagi kami masyarakat Desa Kayu Arang. Terima kasih adik-adik KKN yang sudah memfasilitasi kami dengan informasi baru ini. Harapannya Ibu-ibu dan Bapak-bapak serius perhatikan ya, jangan sampai nanti nanya-nanya sama saya, ha-ha!” ucap Saidina Aksa Dengan Gelak Tawa.
Menariknya lagi, program ini tidak berhenti pada pemanfaatan limbah untuk kebutuhan mandiri. Widi Ariyanto selaku PIC Program Kerja ECOFERT mengungkapkan bahwa formula sederhana ini memiliki potensi ekonomi yang menjanjikan jika digeluti secara serius.
”Harga pasaran EM4 berkisar antara Rp8.000 hingga Rp14.000 per 250 ml, sementara molase berada di kisaran Rp5.000 hingga Rp15.000 per 250 ml. Selain bisa dimanfaatkan sendiri untuk kebutuhan rumah tangga, jika ditekuni sedikit kita bisa membangun bisnis POC. Saya siap untuk mendampingi dan memberikan edukasi lebih lanjut,” tegas Widi di hadapan warga Desa Kayu Arang, yang berada di wilayah Bumi Merah Putih.
Penyerahan Bibit dan Komitmen Berkelanjutan
Sebagai penutup rangkaian kegiatan, mahasiswa KKN Desa Kayu Arang membagikan buah tangan berupa bibit tanaman durian dan cemara kepada seluruh warga yang hadir. Pembagian bibit ini sekaligus menjadi simbol kepedulian terhadap kelestarian lingkungan dan penghijauan di wilayah Desa Kayu Arang.
Kordes (Koordinator Desa) Kayu Arang menambahkan, untuk memastikan program ini berdampak jangka panjang dan tidak berhenti di hari acara saja, pihaknya telah menyiapkan sejumlah media pendukung.
”Sebagai upaya pengingat dan penunjang warga dalam pembuatan POC, kami juga membuat beberapa poster, video edukasi, serta modul online. Harapannya, ilmu ini benar-benar bisa diimplementasikan secara berkelanjutan di tengah masyarakat Desa Kayu arang” pungkasnya.
(ABD)













