KEPAHIANG, FaktaBengkulu.com – Kabupaten Kepahiang bersiap menjadi lumbung energi hijau di Provinsi Bengkulu. Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) di Air Sempiang resmi memasuki babak baru. PT PLN melalui anak usahanya, PT Cakrawala Kepahiang Geothermal, mulai tancap gas melaksanakan proyek strategis dengan total investasi fantastis mencapai Rp 11 triliun.
Bupati Kepahiang, Zurdi Nata, mengonfirmasi bahwa tahapan awal pembangunan fisik akan dimulai tahun 2026 ini. Sebagai langkah pembuka, fokus utama tahun ini adalah pembenahan infrastruktur vital di lokasi proyek.
Proyek ini direncanakan berjalan secara bertahap. Setelah infrastruktur pendukung tuntas, fase krusial akan dimulai pada tahun depan.
“Tahun 2027 nanti, setelah akses jalan siap, pengeboran tiga sumur pertama akan dilakukan. Kapasitas awalnya sebesar 30 MW dengan nilai investasi tahap pertama ini mencapai Rp 2,5 triliun,” ungkap Bupati Zurdi Nata, Minggu (25/1/2026).
Jika fase awal sukses, PLN akan memperluas cakupan hingga total 12 sumur tambahan. Target akhirnya adalah menghasilkan daya maksimal hingga 2×55 MW. Seluruh fasilitas ini diproyeksikan dapat beroperasi penuh secara komersial pada tahun 2030.
Mengingat lokasi sumber panas bumi Air Sempiang berada di dalam kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Bukit Kaba, PLN telah memastikan prosedur perizinan dan koordinasi dengan pihak pengelola berjalan ketat. Sinergi ini diperlukan agar pemanfaatan energi terbarukan tetap selaras dengan upaya konservasi lingkungan di area pegunungan tersebut.
Dampak Ekonomi: Royalti Rp 85 Miliar Per Tahun
Bagi Pemerintah Kabupaten Kepahiang, proyek ini bukan sekadar soal kemandirian energi, melainkan juga suntikan besar bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD).
“Jika sudah beroperasi pada kapasitas penuh, estimasi royalti atau bagi hasil yang diterima Kabupaten Kepahiang bisa mencapai Rp 85 miliar setiap tahunnya,” tambah Nata.
Menariknya, gairah investasi energi di Kepahiang tidak hanya datang dari BUMN. Di saat yang bersamaan, pihak swasta juga tengah mengembangkan proyek geothermal di kawasan Batu Bandung.
Proyek swasta tersebut memiliki kapasitas 40 MW dengan nilai investasi sekitar Rp 1 triliun. Dengan dua proyek besar yang berjalan serentak, Kepahiang kini berada di jalur cepat menuju pusat energi terbarukan di Sumatera.
(ABD)












