Jakarta – Walikota Bengkulu, Dr. Dedy Wahyudi, S.E., M.M., berhasil menjadi perhatian utama di Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) pada hari Selasa (18/11). Di hadapan Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) dan Gubernur Lemhanas, Dedy memaparkan secara langsung rencana aksi yang merupakan hasil studinya di Singapura.
Presentasi ini merupakan puncak dari seleksi karya ilmiah yang diikuti oleh 25 kepala daerah setelah menyelesaikan studi di Singapura. Dari puluhan peserta, hanya tiga besar terbaik yang mendapat kesempatan untuk memaparkan ide mereka di hadapan para pejabat tinggi tersebut, dan Walikota Bengkulu terpilih sebagai presenter utama.
Dedy Wahyudi menawarkan sebuah konsep Digitalisasi Pelayanan Publik Terpadu. Inspirasi utama dari ide ini adalah keberhasilan Singapura dengan Gerbang Digital mereka, SingPass.
Dengan keyakinan penuh, Walikota Dedy meyakinkan audiens bahwa Indonesia, khususnya Bengkulu, juga mampu menerapkan sistem serupa, asalkan terdapat komitmen yang kuat dari pemimpin daerah.
“Sudah saatnya kita fokus pada pelayanan publik berbasis digital. Aplikasi-aplikasi dari masing-masing OPD harus kita satukan dalam satu aplikasi tunggal yang memuat semua layanan. Ini mencakup layanan pendidikan, kesehatan, pengaduan masyarakat, dan lainnya. Nantinya, semua akan terhubung pada satu server pusat, kemudian diteruskan ke setiap kepala dinas terkait”, papar Dedy Wahyudi.
Gagasan Walikota Bengkulu ini disambut baik dan menuai respon positif dari pihak Kemendagri dan Lemhanas.
Wakil Menteri Dalam Negeri, Bima Arya, memuji ide tersebut sebagai brilian namun mengakui bahwa tantangan implementasinya tidak mudah.
“Saya salut jika Bengkulu bisa mewujudkan ini. Memang tantangannya banyak. Namun saya yakin bisa,” ujar Bima Arya, yang juga mantan Walikota Bogor.
Sementara itu, Gubernur Lemhanas, Prof. Ace Hasan Sazily, menyatakan dukungannya dan turut bangga atas inovasi yang ditawarkan.
“Saya mendukung ide Walikota Bengkulu tadi soal digitalisasi. Idenya bagus dan sudah benar itu. Selama ini kita memiliki terlalu banyak aplikasi yang tidak maksimal,” ucapnya, menekankan pentingnya satu aplikasi yang dapat mencakup semua kebutuhan layanan publik.
(ABD)












