FAKTABENGKULU.COM, BENGKULU SELATAN – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bengkulu Selatan mengambil langkah taktis demi melindungi keselamatan para nelayan di pesisir Bumi Merah Putih. Komitmen ini ditegaskan langsung oleh Bupati Bengkulu Selatan, Rifai Tajudin, saat meninjau secara mendadak kondisi riil proyek pengarah arus di muara Sungai Air Manna, Desa Ketaping.
Peninjauan lapangan ini dilakukan menyusul tingginya urgensi penataan kawasan pesisir yang memiliki dinamika abrasi cukup tinggi. Setelah sebelumnya mengucurkan dana miliaran rupiah melalui APBD murni, Pemkab kini mulai mendorong opsi penambahan sekitar 100 kubus beton pengarah arus untuk dimasukkan dalam skema Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Perubahan (APBD-P).
Solusi Taktis untuk Selamatkan Perahu Nelayan
Sebelumnya, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Bengkulu Selatan telah sukses merealisasikan pemasangan 700 unit kubus beton dengan alokasi anggaran mencapai Rp1,4 miliar dari APBD reguler. Proyek tersebut berhasil membentangkan barikade kokoh sepanjang 119 meter guna memecah ombak sekaligus mengarahkan arus sungai langsung menuju laut lepas.
Kendati demikian, kondisi geografis muara pantai Pasar Bawah yang tergolong dinamis menuntut adanya kesinambungan penanganan. Penambahan sekitar 100 kubus beton dinilai sebagai solusi jangka pendek paling efektif guna mengantisipasi titik tekuk abrasi yang paling rawan menjebak perahu nelayan.
Secara teknis, kebutuhan anggaran untuk pengadaan 100 kubus beton tambahan ini diperkirakan berkisar antara Rp200 juta hingga Rp250 juta. Angka tersebut mengacu pada konversi proyek utama, di mana total biaya mulai dari pencetakan, mobilisasi, hingga penurunan satu unit kubus beton di bibir muara memakan estimasi biaya sekitar Rp2 juta.
Keunggulan Skema APBD-P
Pemilihan skema APBD-P untuk penambahan infrastruktur darurat ini didasarkan atas beberapa pertimbangan matang:
- Kecepatan Pengerjaan: Proses pencetakan hingga instalasi 100 kubus beton diproyeksikan hanya memakan waktu 2 hingga 3 bulan, sangat selaras dengan sisa kalender anggaran perubahan yang terbatas jelang akhir tahun.
- Efektivitas Titik Kritis: Tambahan struktur ini mampu memperpanjang dinding pengarah arus sejauh 15 hingga 20 meter, tepat menyasar titik rawan hambatan alur perahu.
- Dongkrak Ekonomi Pesisir: Kelancaran alur muara berbanding lurus dengan peningkatan produktivitas sektor perikanan tangkap yang menjadi urat nadi utama perekonomian masyarakat pesisir Manna.
Saat ini, jajaran eksekutif melalui Dinas PUPR bersama legislatif DPRD Bengkulu Selatan tengah mematangkan koordinasi intensif. Langkah sinergis ini diambil untuk memastikan apakah usulan penambahan infrastruktur darurat tersebut dapat disahkan dalam waktu dekat melalui sidang paripurna APBD-P, atau harus disesuaikan kembali pada pagu anggaran periode berikutnya demi perencanaan kawasan pesisir yang lebih masif.
(ABD)













