FAKTABENGKULU.COM, MEDAN – Wali Kota Bengkulu, Dedy Wahyudi, memberikan catatan kritis sekaligus konstruktif dalam penutupan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XVIII Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Apeksi) yang digelar di Kota Medan. Ia menegaskan bahwa forum tahunan sebesar Apeksi harus melahirkan output yang konkret, bukan sekadar menjadi wadah diskusi tanpa tindak lanjut yang jelas.
Di hadapan Ketua Dewan Pengurus Apeksi, Eri Cahyadi, dan seluruh wali kota se-Indonesia, Dedy Wahyudi menyuarakan pentingnya target pencapaian yang terukur dan sistem evaluasi yang berkala.
“Ini penting. Menurut saya, selain kita bertukar informasi dan bertukar program, juga harus ada capaian. Jangan sampai setiap tahun kita hanya membuat program baru tanpa mengetahui sejauh mana progres dari program sebelumnya,” ujar Dedy Wahyudi di Stand City Hall Kota Medan, Minggu (5/7/2026).
Usulkan Skema Triwulan untuk Evaluasi Program
Guna memastikan setiap rekomendasi tidak mandek di atas kertas, politisi yang dikenal vokal ini mengusulkan formula kerja berbasis triwulan bagi program-program strategis Apeksi:
- Triwulan I: Fokus pada proses perencanaan yang matang.
- Triwulan II: Tahap eksekusi dan pelaksanaan program di lapangan.
- Triwulan III: Evaluasi total terhadap efektivitas dan keberhasilan implementasi program.
Dengan skema yang terstruktur ini, seluruh anggota Apeksi dapat memantau secara objektif sejauh mana dampak program kerja yang telah disepakati bersama bagi kemajuan daerah masing-masing.
Soroti Ketimpangan Anggaran, Dedy Wahyudi Bela Kota-Kota Kecil
Tidak hanya menyoal manajemen internal organisasi, Dedy Wahyudi juga memanfaatkan panggung nasional ini untuk menyuarakan ketimpangan fiskal yang dialami daerah-daerah kecil.
Ia menyoroti kebijakan Transfer ke Daerah (TKD) dari pemerintah pusat yang dinilai krusial bagi keberlangsungan pembangunan kota dengan kapasitas keuangan terbatas. Menurutnya, pemerintah pusat harus adil dan tidak hanya berpihak pada kota-kota besar yang sudah mandiri secara ekonomi.
“Pemerataan dukungan fiskal ini sangat penting agar tidak terjadi kesenjangan pembangunan yang makin lebar antara kota besar dan kota kecil yang masih sangat bergantung pada anggaran pusat,” tegasnya.
Desak Apeksi Segera Geruduk Menteri Keuangan
Sebagai langkah nyata, Wali Kota Bengkulu ini mendesak jajaran pengurus pusat Apeksi untuk segera menjadwalkan audiensi dengan Menteri Keuangan pasca-penutupan Rakernas XVIII ini.
Ia berharap suara kolektif dari seluruh wali kota di Indonesia ini tidak menguap begitu saja, melainkan langsung sampai ke meja pengambil kebijakan nasional sebagai bahan pertimbangan penyusunan regulasi anggaran.
“Apeksi punya posisi yang sangat strategis. Kita harus memastikan suara dan aspirasi dari bawah ini betul-betul didengar dan dipertimbangkan secara serius oleh pemerintah pusat,” pungkas Dedy.
Dalam sela-sela kegiatan tersebut, Wali Kota Bengkulu tampak didampingi oleh Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah Kota Bengkulu, Medy Pebriansyah, serta Asisten I Pemerintah Kota Bengkulu, Alex Pebriansyah.
Melalui momentum Rakernas XVIII di Medan ini, perwakilan dari Bumi Merah Putih berharap keadilan fiskal dapat segera terwujud demi pelayanan publik yang lebih prima bagi masyarakat di kota-kota kecil.
(ABD)













