Bengkulu Tengah – Program Bina Desa, yang diinisiasi oleh Bidang Sosial Masyarakat Himpunan Mahasiswa Perpustakaan dan Sains Informasi Universitas Bengkulu (Unib), resmi ditutup setelah berlangsung selama hampir tiga bulan. Dimulai sejak 30 Agustus, program ini mencapai puncaknya hari ini, 29 November, dalam acara penutupan yang digelar pukul 15.00 WIB di Aula Cek Dam, Jalan Raya Air Sebakul, Desa Air Sebakul, Kecamatan Talang Empat, Kabupaten Bengkulu Tengah.
Fokus utama kegiatan ini adalah revitalisasi dan modernisasi perpustakaan desa Air Sebakul sebagai pilar utama sumber informasi masyarakat. Selama periode pelaksanaannya, mahasiswa telah menyelesaikan serangkaian kegiatan teknis penting, meliputi :
- Pendaftaran SLiMS (Senayan Library Management System) untuk sistem manajemen perpustakaan.
- Pemasukan buku dan digitalisasi koleksi.
- Penomoran buku dan klasifikasi berdasarkan standar kepustakaan.
- Pelaksanaan lomba mewarnai sebagai pendekatan interaktif untuk menarik minat anak-anak.
- Manfaat Program dan Harapan Keberlanjutan
Wawancara dengan narasumber kunci menyoroti dampak positif program ini. Ketua Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi, Fransiska Timoria Samosir, S.Sos, M.A, menilai program ini sangat bermanfaat, tidak hanya bagi pengembangan desa, tetapi juga bagi peningkatan pengalaman praktis pelaksana program.
“Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti di sini. Pembinaan perpustakaan desa harus terus berlanjut, disusul dengan evaluasi berkelanjutan, agar perpustakaan mampu maju dan meningkatkan minat baca masyarakat, meskipun arus informasi elektronik semakin mendominasi,” ujar Fransiska.
Di sisi lain, Kepala Desa Air Sebakul, Titin Sumarni, menyampaikan apresiasi atas kontribusi mahasiswa. Ia mengakui bahwa program ini telah memberikan ilmu berharga dalam pengelolaan perpustakaan. Namun, ia menyoroti tantangan terbesar yang dihadapi.
“Program ini sangat positif. Tantangan utama kami adalah bagaimana mengajak masyarakat, terutama anak-anak, untuk kembali gemar membaca di tengah gempuran informasi digital,” jelas Titin Sumarni.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, Kepala Desa mengusulkan solusi konkret, yakni mengadopsi pendekatan belajar sambil bermain yang dapat diintegrasikan di tingkat sekolah dasar (SD) dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).
Kedua narasumber sepakat bahwa keberlanjutan adalah kunci. Mereka berharap pembinaan perpustakaan desa dapat dilakukan secara berkesinambungan, melibatkan institusi sekolah secara aktif, demi membangun budaya literasi yang kuat di Desa Air Sebakul. Program Bina Desa Unib ini diharapkan menjadi model kemitraan yang efektif antara perguruan tinggi dan komunitas dalam mengatasi kesenjangan informasi di tingkat pedesaan.
(ABD)












