FAKTABENGKULU.COM, BENGKULU — Dinas Politik dan Kajian Strategis (Polkasrat) BEM FISIP KBM Universitas Bengkulu (UNIB) sukses menggulirkan ruang dialektika kritis melalui ajang Materialisme, Dialektika, dan Logika (MADILOG) kedua. Berlangsung di Pelataran Gedung Laboratorium Internasional UNIB, forum diskusi publik ini mengusung tema tajam: “Demokrasi dalam Bayang-bayang Kekuasaan”.
Kegiatan yang dilaksanakan pada Selasa, 1 September 2026 ini menarik antusiasme tinggi mahasiswa lintas fakultas di Universitas Bengkulu. Diskusi ini tidak hanya dirancang sebagai ruang adu gagasan, melainkan wadah refleksi kolektif melihat carut-marut persoalan sosial.
Menghadirkan dua pemantik berpengalaman, yakni Fadilah Radithya Majdi, S.A.P. dan Muhammad Fahri Rabil, S.I.KOM., forum menyoroti secara mendalam dampak buruk ketimpangan struktural kekuasaan baik dalam tatanan birokrasi negara maupun dinamika organisasi kepemudaan.
Dalam pemaparannya, Muhammad Fahri Rabil, S.I.KOM., secara tegas memantik nurani peserta agar segera keluar dari zona nyaman dan budaya apatis yang kerap melanda generasi Pemimpin.
”Kita terlalu banyak menunggu, menunggu orang lain yang berbuat. Maka sudah saatnya kita yang berbuat, kita yang bergerak. Jika ada duri dalam daging, maka lepas dulu durinya. Ada banyak alternatif-alternatif yang dapat digunakan untuk melepaskan duri itu,” tegas Rabil di hadapan peserta.
Ia juga menekankan pentingnya mengevaluasi ulang berbagai program pemerintah yang terbukti mencederai hak-hak masyarakat serta merusak kelestarian lingkungan hidup.
Senada dengan hal tersebut, Fadilah Radithya Majdi, S.A.P., menyoroti melemahnya daya juang organisasi mahasiswa era kontemporer yang cenderung stagnan. Dirinya mengajak seluruh elemen mahasiswa di Bengkulu. khususnya Universitas Bengkulu untuk kembali menoleh ke belakang, menjadikan sejarah perjuangan bangsa sebagai cermin bahwa mahasiswa selalu menjadi motor penggerak perubahan di Indonesia.
Sementara itu, Kepala Dinas Polkasrat BEM FISIP KBM UNIB, Kelvin Adi Nugroho, menegaskan bahwa agenda MADILOG II sengaja dihadirkan sebagai pelecut api pergerakan intelektual yang sempat meredup di lingkungan kampus.
”Harapannya ketika MADILOG ini ada, pemikiran-pemikiran kritis dan gerakan-gerakan intelektual, kemudian gerakan-gerakan taktis untuk melaksanakan aksi, demonstrasi, melihat ketidakadilan, ketimpangan, serta peraturan-peraturan yang dibuat seakan-akan menjerat leher-leher rakyat dapat kembali bangkit,” ujar Kelvin.
Ia juga menambahkan alasan pemilihan bulan September sebagai momentum pelaksanaan kegiatan. Menurutnya, September menyimpan memori historis sebagai bulan yang kelam akibat berbagai tragedi kemanusiaan dan penindasan yang dilakukan oleh rezim oligarki terhadap rakyat Indonesia. Melalui ruang diskusi yang diinisiasi Dinas Polkasrat ini, diharapkan kesadaran kolektif pemuda di Indonesia terus terjaga demi merawat nyala api perlawanan terhadap ketidakadilan.
(ABD)

















