MUKOMUKO, FAKTABENGKULU.COM – Implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Mukomuko masih menghadapi tantangan besar dalam hal infrastruktur pendukung. Hingga Februari 2026, tercatat baru ada 7 unit dapur MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang beroperasi, padahal kebutuhan ideal untuk melayani puluhan ribu penerima manfaat mencapai 41 unit.
Kesenjangan jumlah fasilitas ini membuat jangkauan program belum mampu menyentuh seluruh sasaran secara merata di wilayah “Kapuang Sakti Rantau Batuah” tersebut.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Mukomuko, Elxandi Utria Dharma, S.TP., M.Ec.Dev, merincikan bahwa 7 unit dapur yang telah aktif saat ini tersebar di enam kecamatan, dengan rincian sebagai berikut:
- Kecamatan Kota Mukomuko: 2 Unit (Termasuk SPPG Polri di bawah Yayasan Kemala Bhayangkari).
- Kecamatan Teramang Jaya: 1 Unit.
- Kecamatan Penarik: 1 Unit.
- Kecamatan XIV Koto: 1 Unit.
- Kecamatan Air Manjuto: 1 Unit.
- Kecamatan Pondok Suguh: 1 Unit.
“Saat ini ada 7 unit dapur SPPG yang aktif. Dua di antaranya dikelola oleh Polri melalui Yayasan Kemala Bhayangkari, sementara lima lainnya merupakan mitra langsung dari Badan Gizi Nasional (BGN). Semuanya berstatus dapur aglomerasi atau dapur kapasitas besar,” jelas Elxandi, Minggu (22/2/2026).
Berdasarkan data dari Koordinator Wilayah (Korwil) BGN Mukomuko, terdapat 20.094 jiwa yang terdaftar sebagai penerima manfaat. Kategori penerima ini mencakup kelompok prioritas seperti:
- Pelajar sekolah.
- Ibu hamil.
- Ibu menyusui.
- Balita.
Dengan target 41 unit dapur, Mukomuko masih kekurangan 34 unit lagi agar distribusi makanan bergizi bisa dilakukan secara maksimal dan tepat waktu.
“Kami masih menunggu operasional dapur dari yayasan-yayasan yang sudah mengantongi SK kemitraan. Tambahan unit ini sangat krusial agar tidak ada ketimpangan layanan antar wilayah,” tambah Elxandi.
Pemerintah Kabupaten Mukomuko berharap percepatan penambahan dapur MBG ini segera terealisasi. Kehadiran dapur-dapur baru ini bukan sekadar soal fisik bangunan, melainkan instrumen penting untuk mendorong kualitas kesehatan dan kecerdasan generasi muda di Mukomuko.
Melalui pemerataan akses gizi, diharapkan angka stunting dapat ditekan secara signifikan dan produktivitas masyarakat, khususnya ibu hamil dan menyusui, dapat terjaga dengan baik.
(ABD)










