Menu

Mode Gelap
Waspada! Pecah Rekor 1.250 Pelanggar Terjaring ETLE di Bengkulu dalam Sehari, Helm Jadi Sorotan Utama Cegah “Getok Harga” Saat Lebaran 2026, Pemkot Bengkulu Tebar Spanduk HET di 10 Destinasi Wisata Unggulan Pastikan Lebaran Bebas Sampah, Pemkot Bengkulu Kerahkan 200 Pasukan Oranye ke Titik Vital Tragedi di Sungai Manjuto: Pencari Lokan di Mukomuko Hilang, Diduga Diterkam Buaya Duka Menjelang Lebaran: Rumah Tukang Ojek di Talang Benih Ludes Terbakar, Kerugian Capai Rp 200 Juta Tak Ada Ampun bagi Pelaku ‘Getok Harga’ di Pantai Panjang, Dedy Wahyudi: Jangan Rusak Citra Bengkulu!

Ekonomi

Jika Tambang Emas Dipaksakan Beroperasi, Dampak Negatif : Dari Penggusuran Sampai Punahnya Situs Budaya

badge-check


Jika Tambang Emas Dipaksakan Beroperasi, Dampak Negatif : Dari Penggusuran Sampai Punahnya Situs Budaya Perbesar

Bengkulu – Rencana pengerukan Bukit Sanggul Kabupaten Seluma masih menjadi perdebatan publik Bengkulu. Pengerukan yang dimaksud adalah akan dilakukannya aktivitas penambangan, yaitu tambang emas. Perusahaan yang berencana akan segera membuka aktifitas pertambangan tersebut adalah PT Energi Swadinamika Muda (ESDMu).

Meski sudah banyak penolakan dari berbagai elemen masyarakat, namun peluang akan segera beroperasinya tambang tersebut sangat terbuka. Sembari menunggu keputusan beroperasi atau tidaknya tambang tersebut, mari kita lihat dampak yang akan terjadi.

Jika Bukit Sanggul di Kabupaten Seluma Provinsi Bengkulu dikeruk dan dijadikan tambang emas, maka akan ada sejumlah dampak negatif yang berpotensi muncul, baik dari sisi lingkungan, sosial, maupun ekonomi jangka panjang. Berikut adalah rincian dampak negatif tersebut:

Dampak Lingkungan :

1. Kerusakan ekosistem dan biodiversitas.

Bukit Sanggul kemungkinan menjadi habitat flora dan fauna endemik. Penambangan dapat menyebabkan hilangnya habitat alami, punahnya spesies, dan ketidakseimbangan ekosistem.

2. Pencemaran air dan tanah.

Penambangan emas umumnya menggunakan bahan kimia berbahaya seperti merkuri atau sianida yang dapat mencemari sungai, sumur, dan tanah. Ini berdampak pada kesehatan manusia dan hewan.

3. Penggundulan hutan dan erosi

Aktivitas pengerukan memerlukan pembukaan lahan besar-besaran, yang menyebabkan penggundulan hutan, memperparah erosi, dan meningkatkan risiko banjir dan longsor.

4. Kerusakan bentang alam

Bukit Sanggul sebagai warisan geologis dan lanskap alam akan hancur permanen dan tak bisa dipulihkan.

Dampak Sosial :

1. Konflik lahan dan penggusuran

Warga sekitar bisa kehilangan lahan pertanian atau tempat tinggal. Jika tidak ada ganti rugi yang adil, ini bisa memicu konflik sosial.

2. Penurunan kualitas hidup

Polusi, kerusakan jalan karena truk tambang, dan berkurangnya akses terhadap sumber daya alam (seperti air bersih dan hasil hutan) akan menurunkan kesejahteraan masyarakat.

3. Ketimpangan ekonomi

Keuntungan tambang sering hanya dinikmati segelintir orang (pemilik modal atau investor), sementara masyarakat lokal menanggung dampak lingkungan dan sosialnya.

Dampak Terhadap Warisan Budaya dan Wisata :

1. Hilangnya potensi wisata alam

Jika Bukit Sanggul memiliki potensi wisata alam, spiritual, atau budaya, maka penambangan akan menghancurkan potensi ekonomi berkelanjutan tersebut.

2. Kerusakan situs budaya

Jika terdapat situs sejarah atau budaya di area bukit, tambang dapat merusaknya secara permanen.

Dampak Jangka Panjang :

1. Setelah tambang ditinggalkan (karena sumber emas habis), daerah tersebut seringkali tidak pulih kembali dan meninggalkan lubang bekas tambang yang berbahaya.

2. Kerusakan lingkungan bisa bersifat permanen dan membutuhkan biaya besar untuk rehabilitasi yang sering kali tidak ditanggung oleh penambang.

Meskipun tambang emas bisa memberikan keuntungan jangka pendek dalam bentuk lapangan kerja atau pendapatan daerah, kerugian ekologis, sosial, dan jangka panjangnya sangat besar dan seringkali tak sebanding. Penambangan di wilayah sensitif seperti Bukit Sanggul sebaiknya dikaji ulang secara ketat dengan melibatkan masyarakat lokal, ahli lingkungan, dan pemerintah secara transparan.

 

(DSR)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Waspada! Pecah Rekor 1.250 Pelanggar Terjaring ETLE di Bengkulu dalam Sehari, Helm Jadi Sorotan Utama

22 Maret 2026 - 18:59 WIB

Cegah “Getok Harga” Saat Lebaran 2026, Pemkot Bengkulu Tebar Spanduk HET di 10 Destinasi Wisata Unggulan

22 Maret 2026 - 18:57 WIB

Pastikan Lebaran Bebas Sampah, Pemkot Bengkulu Kerahkan 200 Pasukan Oranye ke Titik Vital

22 Maret 2026 - 18:54 WIB

Tragedi di Sungai Manjuto: Pencari Lokan di Mukomuko Hilang, Diduga Diterkam Buaya

18 Maret 2026 - 19:42 WIB

Duka Menjelang Lebaran: Rumah Tukang Ojek di Talang Benih Ludes Terbakar, Kerugian Capai Rp 200 Juta

18 Maret 2026 - 19:39 WIB

Trending di Headline