Menu

Mode Gelap
Satpol PP Kota Bengkulu “Sikat” PKL dan Bangunan Liar di Kawasan KZ Abidin, Tak Ada Lagi Negosiasi! Geger! Sopir Truk Ditemukan Tewas Tak Wajar di Perumahan Medan Jaya Residence Bengkulu Kawasan Balai Buntar: Bakal Jadi Pusat Kuliner Ikonik, Kuota Pedagang Dibatasi 150 Lapak Jurusan Administrasi Publik FISIP UNIB dan DPD IAPA Bengkulu Sukses Gelar Kuliah Umum serta Pelantikan Pengurus Dukung Inovasi Mahasiswa, FISIP UNIB Bekali Strategi Jitu Penyusunan Proposal PKM 2026 Kabar Baik! 4 Warga Kota Bengkulu Korban TPPO di Kamboja Segera Pulang, Pemprov dan Baznas Tanggung Biaya

Headline

Fakta ! Bukit Sanggul, Hulu Dari 10 Sungai Besar. Ketika Tambang Emas Menjadi Ancaman, Potensi Bencana Besar Akibat Ketamakan

badge-check


					Fakta ! Bukit Sanggul, Hulu Dari 10 Sungai Besar. Ketika Tambang Emas Menjadi Ancaman, Potensi Bencana Besar Akibat Ketamakan Perbesar

SELUMA, BENGKULU – Rencana pembukaan tambang emas di kawasan Hutan Lindung (HL) Bukit Sanggul, Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu, telah memicu gelombang penolakan keras dari masyarakat dan aktivis lingkungan. Kekhawatiran utama terfokus pada dampak ekologis yang sistemik, terutama ancaman serius terhadap jaringan sungai yang menjadikan kawasan ini sebagai “jantung air” bagi kehidupan ribuan warga di hilir. Keputusan ini dinilai setara dengan vonis mati bagi sumber air yang menghidupi sebagian besar wilayah Seluma.

​Sungai-Sungai yang Berhulu di Bukit Sanggul :

​Hutan Lindung Bukit Sanggul, dengan luas total lebih dari 74.000 hektar, adalah kawasan vital yang berfungsi sebagai benteng pertahanan ekologis dan sumber resapan air utama. Data dari berbagai lembaga menyebutkan bahwa kawasan ini adalah hulu dari sedikitnya 10 sungai besar yang membentuk tujuh Daerah Aliran Sungai (DAS) penting di Seluma dan sekitarnya.

​Sungai-sungai yang berhulu langsung atau dipengaruhi oleh Bukit Sanggul mencakup :

  • ​DAS Alas (termasuk Sungai Alas Kanan, Alas Tengah, dan Alas Kiri, yang juga menjadi batas antara Seluma dan Bengkulu Selatan).
  • DAS Kungkai
  • DAS Seluma
  • DAS Talo
  • DAS Maras
  • DAS Selali
  • DAS Pino

​Secara keseluruhan, kawasan hutan ini menaungi sedikitnya 2.049 anak sungai yang bermuara pada sungai-sungai utama tersebut, dan menjadi sumber pengairan bagi lebih dari 9.700 hektar areal persawahan di enam kecamatan Kabupaten Seluma. Inilah aset kehidupan yang kini diletakkan di bawah ancaman eksploitasi emas.

​Dampak Nyata Jika Tambang Emas Beroperasi :

​Aktivitas pertambangan emas skala besar, yang sebagian besar konsesinya berada di dalam kawasan hutan lindung, diperkirakan akan menimbulkan serangkaian dampak lingkungan yang parah, terutama pada kondisi air sungai:

1. Racun Mematikan : Pencemaran Logam Berat dan Zat Berbahaya.

Proses pemurnian emas secara industri seringkali menggunakan bahan kimia berbahaya seperti merkuri dan sianida. Jika tambang beroperasi, limbah dari proses ini berpotensi besar mencemari seluruh jaringan sungai yang berhulu di Bukit Sanggul.

  • Ancaman Kesehatan: Pencemaran ini akan menjadi ancaman langsung bagi kesehatan masyarakat yang menggunakan air sungai untuk konsumsi sehari-hari. Logam berat ini terakumulasi dalam rantai makanan, berpotensi menyebabkan kerusakan neurologis dan organ.
  • Kerusakan Ekosistem Air: Kontaminasi logam berat akan mematikan biota air, termasuk ikan-ikan endemik yang selama ini menjadi sumber protein dan mata pencaharian warga.

​2. Hilangnya Sumber Pengairan dan Ancaman Gagal Panen

​Hutan Bukit Sanggul adalah pengatur tata air alami. Pembukaan hutan, penggalian, dan perubahan fisik lahan akibat tambang akan menghilangkan kawasan resapan air.

  • ​Debit Air Menurun : Hilangnya tutupan hutan akan mengurangi kemampuan tanah menyerap dan menyimpan air, menyebabkan debit air sungai menurun drastis saat kemarau, yang setara dengan kekeringan buatan.
  • Irigan Sawah Terganggu: Ribuan petani di hilir yang bergantung pada irigasi dari sungai-sungai ini akan kehilangan sumber pengairan, mengancam kegagalan panen di ribuan hektar sawah dan menghancurkan perekonomian lokal.

​3. Risiko Bencana Hidrometeorologi (Banjir dan Longsor)

​Penggundulan hutan di wilayah dengan tingkat kelerengan curam dan sangat curam (25% – > 45%) akan meningkatkan risiko bencana.

  • ​Banjir Bandang: Hutan yang rusak tidak mampu menahan laju air, sehingga meningkatkan frekuensi dan intensitas banjir bandang di desa-desa yang berada di sekitar Daerah Aliran Sungai.
  • Erosi dan Sedimentasi: Kerusakan lahan menyebabkan erosi tanah yang parah, di mana lumpur dan sedimen akan mengendap di dasar sungai, menjadikannya dangkal, dan memperparah potensi banjir.

​Merespons ancaman ini, masyarakat Seluma telah menyuarakan penolakan tegas, bahkan melalui surat terbuka kepada Presiden RI. Mereka menuntut Pemerintah Pusat dan Daerah untuk segera mencabut dan meninjau ulang seluruh izin tambang serta mengembalikan fungsi HL Bukit Sanggul sebagai kawasan lindung.

​”Ini bukan soal pembangunan, ini soal pembunuhan massal terhadap sumber kehidupan kami. Sungai yang bersih adalah warisan paling berharga yang tidak dapat ditukar dengan emas sesaat,” ujar salah satu aktivis, menuntut agar pemerintah mendengarkan suara rakyat yang terancam.

(ABD)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Satpol PP Kota Bengkulu “Sikat” PKL dan Bangunan Liar di Kawasan KZ Abidin, Tak Ada Lagi Negosiasi!

3 Februari 2026 - 21:59 WIB

Geger! Sopir Truk Ditemukan Tewas Tak Wajar di Perumahan Medan Jaya Residence Bengkulu

3 Februari 2026 - 21:55 WIB

Kawasan Balai Buntar: Bakal Jadi Pusat Kuliner Ikonik, Kuota Pedagang Dibatasi 150 Lapak

3 Februari 2026 - 21:51 WIB

Jurusan Administrasi Publik FISIP UNIB dan DPD IAPA Bengkulu Sukses Gelar Kuliah Umum serta Pelantikan Pengurus

3 Februari 2026 - 07:49 WIB

Dukung Inovasi Mahasiswa, FISIP UNIB Bekali Strategi Jitu Penyusunan Proposal PKM 2026

2 Februari 2026 - 20:01 WIB

Trending di Headline