Muhammad Putra Rezky Fakhriannoor (Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi UNISKA Banjarmasin) :
Edukasi Kebencanaan adalah Kunci Mengurangi Dampak Banjir
Menurut saya, banjir bukan sekadar bencana alam yang datang tanpa sebab, melainkan cerminan dari rendahnya kepedulian kita terhadap lingkungan dan masih lemahnya kesiapsiagaan masyarakat. Hampir setiap musim hujan, banjir kembali terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Ribuan warga terdampak, aktivitas ekonomi lumpuh, dan kerugian materi terus berulang. Ironisnya, banyak dari kejadian ini sebenarnya dapat dikurangi apabila kesadaran dan edukasi masyarakat dibangun secara serius dan berkelanjutan.
Saya meyakini bahwa edukasi kebencanaan memiliki peran yang sangat menentukan dalam mengurangi dampak banjir. Masyarakat yang memahami penyebab banjir dan cara menghadapinya akan lebih siap, lebih tenang, dan lebih sigap dalam mengambil tindakan saat bencana terjadi. Kebiasaan sederhana seperti tidak membuang sampah sembarangan, menjaga saluran air tetap bersih, serta memahami tanda-tanda awal banjir seharusnya menjadi bagian dari budaya sehari-hari, bukan sekadar imbauan musiman.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa banyak banjir dipicu oleh ulah manusia sendiri: tumpukan sampah di selokan, alih fungsi lahan resapan air, dan pembangunan yang tidak terencana. Hal ini memperkuat keyakinan saya bahwa solusi banjir tidak cukup hanya dengan pembangunan infrastruktur, tetapi harus dibarengi perubahan perilaku masyarakat melalui pendidikan dan pembinaan yang konsisten.
Oleh karena itu, saya menilai bahwa pemerintah daerah perlu menjadikan edukasi kebencanaan sebagai program prioritas. Edukasi ini tidak boleh berhenti pada sosialisasi sesaat, melainkan harus dilakukan secara sistematis, melibatkan sekolah, tokoh masyarakat, organisasi sosial, relawan, hingga dunia usaha. Anak-anak sekolah khususnya harus diperkenalkan sejak dini pada pentingnya menjaga lingkungan dan memahami risiko bencana agar terbentuk generasi yang lebih sadar dan bertanggung jawab.
Lebih jauh, simulasi bencana juga perlu digiatkan. Dengan latihan yang rutin, masyarakat tidak lagi panik saat banjir datang, melainkan tahu apa yang harus dilakukan: mematikan listrik, menyelamatkan dokumen penting, membantu kelompok rentan, dan menuju titik evakuasi yang aman. Pengalaman menunjukkan bahwa warga yang teredukasi mampu mengambil keputusan lebih cepat dan tepat, sehingga risiko korban jiwa dan kerugian dapat ditekan.
Bagi saya, membangun budaya sadar bencana adalah investasi jangka panjang bagi keselamatan bangsa. Ketika masyarakat memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kepedulian yang memadai, maka ketahanan daerah terhadap bencana akan meningkat. Lingkungan yang aman, sehat, dan tangguh bukan lagi sekadar cita-cita, melainkan sesuatu yang dapat kita wujudkan bersama melalui komitmen, kerja sama, dan kesadaran kolektif.
Rezha Tri Atmaja (Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi UNISKA Banjarmasin) :
Kewaspadaan Pascabanjir Menentukan Keselamatan Masyarakat
Menurut saya, fase pascabanjir merupakan salah satu tahap paling krusial dalam penanganan bencana yang sering kali kurang mendapat perhatian serius. Banyak warga cenderung ingin segera kembali beraktivitas seperti biasa setelah air surut, padahal kondisi lingkungan yang terdampak banjir masih menyimpan berbagai risiko tersembunyi, baik dari sisi kesehatan, keselamatan, maupun keamanan. Jika masa pemulihan ini tidak ditangani dengan penuh kehati-hatian, maka bencana susulan dalam bentuk penyakit, kecelakaan, dan kerusakan lanjutan dapat terjadi.
Saya memandang bahwa langkah awal pascabanjir, yaitu membersihkan lingkungan dari lumpur, sampah, dan sisa material, bukan sekadar pekerjaan fisik biasa, melainkan bagian penting dari upaya penyelamatan kesehatan masyarakat. Penggunaan alat pelindung diri seperti sepatu bot, sarung tangan, dan masker seharusnya menjadi kebiasaan, bukan pilihan, karena paparan lumpur dan air banjir berpotensi membawa kuman, bakteri, dan zat berbahaya.
Ketersediaan air bersih juga menjadi perhatian utama yang sering diabaikan. Air sumur dan sumber air lain yang sempat terendam banjir tidak bisa langsung digunakan tanpa proses pembersihan dan sterilisasi. Saya meyakini bahwa kebiasaan merebus air sebelum dikonsumsi harus terus ditekankan sebagai langkah sederhana namun sangat efektif dalam mencegah penyakit menular.
Selain itu, aspek keselamatan rumah tangga juga tidak boleh diabaikan. Instalasi listrik dan peralatan elektronik yang terdampak banjir menyimpan potensi bahaya yang serius. Menurut saya, kehati-hatian dalam memastikan rumah benar-benar kering sebelum aliran listrik kembali dinyalakan adalah langkah vital untuk mencegah risiko kebakaran maupun sengatan listrik yang dapat berujung fatal.
Pemeriksaan kondisi fisik bangunan juga perlu menjadi prioritas. Retakan pada dinding, pergeseran pondasi, dan kerusakan struktur bangunan bukan hanya persoalan estetika, melainkan menyangkut keselamatan penghuni rumah. Kesadaran untuk segera melaporkan kerusakan kepada pihak terkait mencerminkan sikap tanggung jawab terhadap keselamatan diri dan lingkungan sekitar.
Dari sisi kesehatan, saya melihat bahwa pascabanjir merupakan masa rawan munculnya berbagai penyakit seperti diare, infeksi kulit, demam, dan gangguan pernapasan. Kesigapan warga untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan ketika muncul gejala penyakit menjadi faktor penting dalam menekan angka kesakitan dan mempercepat proses pemulihan masyarakat.
Saya juga menilai bahwa gotong royong dalam membersihkan lingkungan dan menghilangkan genangan air bukan hanya mempercepat pemulihan permukiman, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial yang sangat dibutuhkan setelah bencana. Di sinilah kekuatan masyarakat sebenarnya diuji: saling membantu, saling mengingatkan, dan saling menjaga keselamatan.
Akhirnya, saya berpendapat bahwa keberhasilan pemulihan pascabanjir sangat ditentukan oleh kesadaran kolektif dan kerja sama semua pihak — masyarakat, pemerintah, dan relawan. Ketika kewaspadaan, kedisiplinan, dan kepedulian menjadi budaya bersama, maka masyarakat tidak hanya mampu bangkit lebih cepat, tetapi juga menjadi lebih tangguh dalam menghadapi bencana di masa depan.
(ABD)












