BENGKULU, faktabengkulu.com – Pemerintah Provinsi Bengkulu terus tancap gas dalam memperkuat infrastruktur kesehatan di tingkat akar rumput. Melalui program unggulan “Satu Desa Satu Ambulans”, Pemprov Bengkulu resmi menyiapkan anggaran fantastis sebesar Rp38 miliar untuk pengadaan 130 unit ambulans baru pada tahun anggaran 2026.
Langkah ini bukan sekadar menambah jumlah armada, melainkan sebuah transformasi layanan medis desa menjadi lebih modern dan terukur.
Teknologi GPS: Pantau Posisi Secara Real-Time
Ada yang berbeda pada pengadaan tahun 2026 ini. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu, Yasman, mengungkapkan bahwa seluruh unit baru akan dibekali dengan teknologi Global Positioning System (GPS).
“Kami tidak hanya menambah unit, tapi melakukan upgrade besar-besaran. Dengan GPS, posisi ambulans bisa dilacak secara real-time. Tujuannya agar layanan kesehatan lebih profesional, cepat, dan responsif terhadap kedaruratan,” ujar Yasman (05/04/2026).
Selain fitur pelacakan, fasilitas medis di dalam kabin ambulans juga dipastikan lebih lengkap dibandingkan pengadaan tahun-tahun sebelumnya, guna memastikan penanganan pertama pasien di perjalanan menjadi lebih optimal.
Distribusi Berbasis Kebutuhan Riil, Bukan Sekadar Pemerataan
Berbeda dengan pola distribusi sebelumnya yang cenderung merata, tahun 2026 Pemprov Bengkulu menerapkan strategi skala prioritas. Fokus utama akan diarahkan pada:
- Wilayah Terpencil: Desa dengan akses geografis sulit dan jauh dari pusat kesehatan.
- Kecamatan Prioritas: Wilayah yang selama ini belum tersentuh bantuan ambulans provinsi.
- Kesiapan Desa: Desa yang menunjukkan komitmen kuat dalam pengelolaan operasional secara mandiri.
Skema Baru: Pemprov Pengadaan, Desa Operasional
Salah satu poin krusial dalam kebijakan tahun 2026 adalah pembagian tanggung jawab antara pemerintah provinsi dan desa. Pemprov Bengkulu fokus pada penyediaan unit (pengadaan), sementara biaya operasional sepenuhnya menjadi tanggung jawab Pemerintah Desa (Pemdes).
- Biaya operasional tersebut mencakup:
- Pembelian bahan bakar minyak (BBM).
- Perawatan rutin kendaraan.
- Honorarium sopir ambulans.
Untuk menjaga keberlangsungan layanan ini, Pemprov menyarankan agar pihak desa mengalokasikan sekitar 10 persen dari Dana Desa untuk sektor kesehatan, khususnya operasional ambulans.
“Kami ingin menumbuhkan rasa memiliki (sense of ownership) dari pihak desa. Jika desa ikut merawat, maka layanan ini akan lebih awet dan memberikan manfaat jangka panjang bagi warga pelosok,” tambah Yasman.
Mewujudkan Visi Bengkulu Sehat
Program ini merupakan perwujudan visi dan misi Gubernur Helmi Hasan dan Wakil Gubernur Mian dalam menjadikan layanan kesehatan sebagai tulang punggung pelayanan publik di Bengkulu. Dengan hadirnya 130 unit baru ini, diharapkan tidak ada lagi cerita keterlambatan penanganan medis darurat hanya karena kendala transportasi di desa-desa terpencil.
(ABD)













