Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Headline

Banyak yang Disimpan, Sedikit yang Dipahami

badge-check

Banyak yang Disimpan, Sedikit yang DipahamiPerbesar

Nama: Dea Dayu Frisilia

NPM: D1E024036

Prodi Ilmu Komunikasi

 

Coba buka galeri ponselmu sekarang. Ada berapa tangkapan layar yang tidak pernah kamu lihat lagi? Lalu buka folder simpanan di Tik Tok dan Instagram. Isinya mungkin resep yang belum dimasak, tips belajar yang belum dicoba, dan thread panjang yang katanya mau dibaca nanti. Alurnya hampir selalu sama. Kita menemukan konten bagus, menekan tombol simpan, merasa tenang, lalu lupa. Perasaan tenang itulah yang menipu. Setelah menyimpan, kita merasa sudah belajar. Padahal yang kita lakukan baru sebatas memindahkan informasi dari layar orang lain ke penyimpanan kita sendiri tanpa benar-benar memahaminya.

Ketika Kebiasaan Menyimpan Punya Nama

Seiring bertambahnya jumlah data yang disimpan, muncul perilaku yang dikenal sebagai hoarding. Perilaku ini merujuk pada kecenderungan seseorang untuk menyimpan dan mengumpulkan data secara berlebihan, serta mengalami kesulitan untuk menghapusnya, meskipun data tersebut sudah tidak memiliki manfaat atau nilai yang jelas (Wang et al., 2022). Penelitian Sedera et al. (2022) juga menunjukkan bahwa seiring biaya penyimpanan data yang semakin mendekati nol, individu memiliki kemampuan untuk memperoleh dan menyimpan konten dalam jumlah yang jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya. Kebiasaan ini berkaitan dengan kecemasan. Kita menyimpan karena takut ketinggalan informasi, bukan karena benar-benar butuh.

Apa Kata Empat Pilar Literasi Digital??

Kerangka literasi digital di Indonesia mempunyai empat pilar yang disingkat CABE.  Pilar ini dirumuskan oleh Kominfo bersama Japelidi dan SIBERKREASI, kemudian secara resmi diluncurkan pada April 2021. Pilar tersebut mencakup empat aspek utama, yaitu Cakap, Aman, Budaya, dan Etika. Kebiasaan menyimpan berbagai konten tanpa benar-benar memahami isinya pada dasarnya berkaitan dengan keempat aspek tersebut.

1. Cakap

Cakap digital bukan hanya bisa memakai aplikasi. Cakap digital juga berarti mampu mencari, menyaring, dan mengolah informasi. Kita terbiasa dengan mudah menyimpan berbagai informasi, tetapi sering kali lupa melakukan langkah berikutnya, seperti membaca kembali, mencatat poin penting, serta mengaitkannya dengan pengetahuan yang sudah dimiliki.

2.  Aman

Pilar aman menjadi aspek yang paling jarang kita hubungkan dengan kebiasaan menyimpan data. Padahal, galeri yang dipenuhi tangkapan layar dapat menjadi tempat penumpukan informasi, termasuk data yang bersifat sensitif seperti bukti transfer, chat, hingga foto KTP. Semakin banyak data yang tersimpan tanpa pengelolaan yang baik, semakin besar pula potensi risikonya terutama apabila ponsel hilang atau akun diretas. Berdasarkan Survei Status Literasi Digital Indonesia 2022 oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bersama Katadata Insight Center (KIC), Keamanan Digital memperoleh skor terendah, yaitu 3,12 dari skala 5.

3. Budaya

Kita hidup di tengah budaya digital yang serba cepat. Setiap hari, algoritma terus menyajikan berbagai konten baru, sementara tombol simpan menjadi cara praktis untuk mengatasi kekhawatiran akan tertinggal informasi. Tanpa disadari, kebiasaan tersebut memberikan kesan seolah-olah kita sedang produktif, padahal hanya menunda untuk benar-benar memahami informasi. Budaya digital yang sehat semestinya bukan tentang seberapa banyak informasi yang berhasil kita kumpulkan, melainkan seberapa banyak yang benar-benar kita pahami dan manfaatkan.

4. Etika

Kebiasaan menyimpan informasi tidak dapat dipisahkan dari cara kita membagikan informasi. Ketika terbiasa menyimpan konten tanpa membaca atau memahami isinya, kita cenderung lebih mudah meneruskan informasi hanya karena judulnya menarik, tanpa memeriksa kebenarannya terlebih dahulu. Jika terus dilakukan, informasi yang tidak dipahami dan diverifikasi tidak lagi menjadi persoalan pribadi. Ketika informasi tersebut dibagikan, dampaknya dapat meluas dan menjadi persoalan bersama di ruang digital.

Saatnya Beralih dari Menyimpan ke Memahami

Menyimpan informasi bukanlah kebiasaan yang harus dihentikan. Aktivitas tersebut merupakan hal yang wajar dan dapat membantu ketika dilakukan dengan tujuan yang jelas. Namun, yang perlu diubah adalah anggapan bahwa menyimpan informasi berarti telah belajar. Untuk membangun kebiasaan digital yang lebih baik, beberapa langkah sederhana dapat dilakukan:

1. Tentukan tujuan sebelum menyimpan. Pertimbangkan kapan dan untuk apa konten tersebut akan digunakan kembali.

2. Luangkan waktu untuk membaca kembali. Sisihkan sekitar 15 menit setiap akhir pekan untuk membuka kembali dan memahami konten yang telah disimpan.

3. Rangkum menggunakan bahasa sendiri. Tuliskan satu atau dua kalimat mengenai inti informasi untuk membantu memastikan bahwa informasi tersebut benar-benar dipahami.

4. Hapus konten yang sudah tidak diperlukan. Hal ini terutama untuk tangkapan layar yang memuat informasi atau data pribadi.

5. Periksa sebelum membagikan. Pastikan informasi telah dibaca dan dipahami secara menyeluruh sebelum meneruskannya kepada orang lain.

Pada akhirnya, pengetahuan bukan sekadar tentang seberapa banyak informasi yang kita simpan, melainkan sejauh mana informasi tersebut dibaca, dipahami, dan diolah kembali menjadi pengetahuan. Galeri atau folder simpanan yang penuh hanya menunjukkan banyaknya konten yang pernah menarik perhatian kita. Pemahaman justru terlihat ketika kita mampu menjelaskan kembali informasi tersebut dengan bahasa sendiri tanpa harus selalu melihat sumbernya.

Jadi, dari sekian banyak konten yang tersimpan, berapa banyak yang benar-benar kita pahami?

Referensi

4 pilar literasi digital CABE (cakap aman budaya etika) SIBERKREASI. (n.d.). Gerakan Nasional https://gnld.siberkreasi.id/modul/LiterasiDigitalSiberkreasi.

Sedera, D., Lokuge, S., & Grover, V. (2022). Modern-day digital hoarding: A model for understanding and measuring digital hoarding. Information & Management, 59(8). https://doi.org/10.1016/j.im.2022.103700

Wang, H., Miao, P., Jia, H., & Lai, K. (2023). The dark side of upward social comparison for social media users: An investigation of fear of missing out and hoarding behavior. Social Media + Society, 9(1). https://doi.org/10.1177/20563051221150420

(ABD)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Bangkit Dari Kerugian, Perumda Tirta Hidayah Cetak Laba Rp4,48 Miliar! Ini Pesan Menohok Walikota Bengkulu

8 Okt 2026 - 19:25 WIB

Bangkit Dari Kerugian, Perumda Tirta Hidayah Cetak Laba Rp4,48 Miliar! Ini Pesan Menohok Walikota Bengkulu

Komitmen Transparansi, Pemkab Bengkulu Tengah Pamerkan Inovasi Layanan di Uji Publik KIP 2026

8 Okt 2026 - 19:13 WIB

Komitmen Transparansi, Pemkab Bengkulu Tengah Pamerkan Inovasi Layanan di Uji Publik KIP 2026

Pemkot Bengkulu Siap Wujudkan Manajemen Talenta ASN yang Transparan dan Terukur

8 Okt 2026 - 19:10 WIB

Pemkot Bengkulu Siap Wujudkan Manajemen Talenta ASN yang Transparan dan Terukur

C.A.B.E: Empat Pilar Literasi Digital sebagai Pegangan di Tengah Derasnya Arus Informasi

8 Okt 2026 - 15:39 WIB

C.A.B.E: Empat Pilar Literasi Digital sebagai Pegangan di Tengah Derasnya Arus Informasi

C.A.B.E: Empat Pilar yang Menjaga Kita Tetap Waras di Era Viral dan Kecerdasan Buatan

8 Okt 2026 - 15:12 WIB

C.A.B.E: Empat Pilar yang Menjaga Kita Tetap Waras di Era Viral dan Kecerdasan Buatan
Trending di Headline