BENGKULU, FaktaBengkulu.com – Pesisir Pantai Pasar Bengkulu mendadak riuh, Minggu sore (8/2/2026). Ribuan pasang mata menyaksikan momen langka saat unsur Forkopimda Kota Bengkulu melebur bersama ratusan nelayan dalam tradisi Tarik Pukek. Aksi ini menjadi sajian utama dalam gelaran bergengsi Festival Yo Botoi-Botoi 2026.
Bukan sekadar aktivitas menangkap ikan, Tarik Pukek kali ini menjadi panggung simbolis betapa kuatnya budaya gotong royong yang masih mengakar di Bumi Raflesia.
Simbol Persatuan dan Kebangkitan Ekonomi Pesisir
Wakil Wali Kota Bengkulu, Ronny PL Tobing, yang turun langsung menarik jaring (pukek) bersama warga, menyatakan bahwa festival ini adalah upaya menjaga jati diri Bengkulu sebagai kota pesisir yang berbudaya.
“Tarik Pukek adalah wajah asli kebersamaan kita. Di sini tidak ada sekat antara pejabat dan rakyat, semua satu komando menarik jaring. Nilai-nilai seperti inilah yang harus kita wariskan kepada generasi muda agar tidak tergerus zaman,” ujar Ronny di sela-sela kegiatan.
Pemerintah Kota Bengkulu juga berkomitmen menjadikan festival ini sebagai agenda tahunan tetap. Selain memperkuat nilai sosial, festival ini diproyeksikan menjadi penggerak ekonomi kreatif di kawasan Kota Tua Bengkulu.
Plt Kepala Dinas Pariwisata Kota Bengkulu, Nina Nurdin, menjelaskan bahwa Yo Botoi-Botoi 2026 dirancang lebih inklusif dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat, mulai dari UMKM, perbankan, hingga pelajar.
Beberapa poin menarik dari festival tahun ini antara lain:
- Lomba Estetika Kapal: Sebanyak 80 hingga 100 nelayan bersaing mempercantik kapal mereka dengan pengecatan ulang agar terlihat rapi dan memberikan semangat baru saat melaut.
- Kompensasi Nelayan: Selama festival berlangsung, para nelayan yang tidak melaut mendapatkan kompensasi sebagai bentuk dukungan pemerintah.
- Multievent: Selain Tarik Pukek, warga dihibur dengan lomba memasak ikan, lomba mewarnai untuk anak-anak, hingga parade “Lenggang Cantik” oleh organisasi perempuan.
Target Menembus Kalender Event Nasional (KEN)
Nina menambahkan, target besar dari festival ini adalah membawa Yo Botoi-Botoi masuk ke dalam Kalender Event Nasional (KEN) Kementerian Pariwisata.
“Kami ingin festival ini menjadi magnet wisata dunia. Harapannya, revitalisasi kawasan Kota Tua Bengkulu dapat berjalan seiring dengan hidupnya kembali tradisi-tradisi lokal yang otentik,” tambahnya.
(ABD)









