MUKOMUKO, FAKTABENGKULU.COM – Upaya Pemerintah Kabupaten Mukomuko dalam menjaga stabilitas ekonomi di awal tahun 2026 membuahkan hasil manis. Berdasarkan data terbaru, angka inflasi di “Negeri Kapuang Sakti Ratau Batuah” ini tercatat mengalami penurunan signifikan dibandingkan akhir tahun lalu.
Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM (Disperindagkop-UKM) Mukomuko merilis bahwa inflasi pada Januari 2026 berada di angka 2,55 persen. Angka ini menunjukkan tren positif jika dikomparasikan dengan inflasi Desember 2025 yang sempat menyentuh 3,83 persen.
Kepala Disperindagkop-UKM Mukomuko, Syafriadi, SH, mengungkapkan bahwa keberhasilan menekan laju inflasi ini tidak lepas dari intervensi pasar yang dilakukan secara masif. Salah satu program yang menjadi “ujung tombak” adalah Gerakan Pangan Murah (GPM).
“Gerakan Pangan Murah terbukti menjadi instrumen utama kami dalam menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen. Pemerintah hadir untuk memastikan masyarakat mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga di bawah pasar,” ujar Syafriadi pada Minggu, 1 Maret 2026.
Syafriadi menjelaskan, fluktuasi harga biasanya terjadi akibat lonjakan permintaan saat momen hari besar keagamaan dan pergantian tahun. Komoditas seperti beras, gula, minyak goreng, cabai, hingga telur seringkali menjadi penyumbang inflasi jika tidak dikendalikan.
Tak bergerak sendiri, Pemkab Mukomuko juga memperkuat sinergi dengan berbagai pihak untuk menjaga “napas” ekonomi daerah. Beberapa langkah strategis yang dijalankan antara lain:
- Sinergi TPID: Memperkuat peran Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) dalam memetakan risiko harga.
- Kemitraan Strategis: Melibatkan distributor besar, Bulog, serta pelaku usaha lokal dalam penyediaan stok.
- Monitoring Rutin: Melakukan pantauan harga secara berkala di pasar tradisional maupun pasar modern.
- Stok Pangan Aman: Memastikan rantai pasok tidak terhambat sehingga stok di pasar tetap melimpah.
“Turunnya angka inflasi ke 2,55 persen adalah indikator bahwa stabilitas mulai terjaga. Namun, kami tetap mengimbau para pelaku usaha untuk tidak melakukan spekulasi harga yang dapat merugikan masyarakat,” tegas Syafriadi.
Meski tren inflasi sedang melandai, Pemkab Mukomuko tidak ingin lengah. Saat ini, fokus pemerintah mulai bergeser pada persiapan menghadapi potensi lonjakan permintaan menjelang Idul Fitri atau Lebaran 2026.
Langkah antisipasi terus dimatangkan agar daya beli masyarakat tetap terjaga dan beban rumah tangga tidak tergerus oleh kenaikan harga yang mendadak. Dengan inflasi yang terkendali, diharapkan roda ekonomi di Mukomuko dapat berputar lebih stabil sepanjang tahun 2026.
(ABD)










